Safrizal Walahe: Rentenir yang Sebar Data Pribadi Dengan Dalih Perjanjian Bermaterai Bisa Diproses Hukum

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati Hukum dan Advokat, Safrizal Walahe

Pemerhati Hukum dan Advokat, Safrizal Walahe

Expektasi.com, Boltara – Praktik pinjaman berbunga oleh rentenir yang disertai ancaman penyebaran foto pribadi, KTP, hingga data pribadi di media sosial mendapat sorotan serius dari pemerhati hukum dan advokat, Safrizal Walahe, SH., MH.

Menurut Safrizal, perjanjian bermaterai tidak dapat dijadikan dasar pembenaran untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum, terlebih jika isi perjanjian mengandung ancaman atau intimidasi terhadap peminjam.

“Materai hanya memperkuat aspek administrasi sebuah dokumen, bukan otomatis menghalalkan seluruh isi perjanjian. Jika klausulnya bertentangan dengan hukum, hak privasi, dan ketertiban umum, maka dapat dianggap batal atau tidak memiliki kekuatan hukum,” tegasnya, Minggu (25/05/2026).

Ia menjelaskan, tindakan mengancam akan menyebarkan foto pribadi, KTP, nomor telepon, hingga alamat rumah demi memaksa pembayaran utang dapat dikategorikan sebagai bentuk pemerasan maupun pengancaman.

Selain itu, penyebaran data pribadi tanpa izin pemiliknya juga berpotensi melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.

“Data KTP itu termasuk data pribadi yang dilindungi. Tidak bisa sembarangan disebarluaskan, apalagi untuk mempermalukan seseorang di media sosial,” ujarnya.

Safrizal menambahkan, tindakan mengunggah identitas seseorang ke media sosial dengan tujuan mempermalukan atau menekan korban juga dapat masuk kategori pencemaran nama baik maupun doxing digital.

Dalam beberapa praktik pinjaman ilegal, terdapat klausul yang menyebut bahwa apabila peminjam gagal membayar utang, maka pihak pemberi pinjaman berhak menyebarkan data dan foto pribadi peminjam ke media sosial.

Menurut Safrizal, klausul semacam itu tidak dapat dijadikan tameng hukum karena bertentangan dengan hak asasi dan perlindungan privasi warga negara.

Ia mengimbau masyarakat yang mengalami ancaman serupa untuk segera menyimpan seluruh bukti, mulai dari tangkapan layar percakapan, isi perjanjian, rekaman ancaman, hingga akun media sosial dan nomor telepon pelaku.

“Jangan hapus bukti digital. Segera laporkan ke pihak kepolisian atau unit siber agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” pungkasnya. (Awal)

Berita Terkait

Pemkab Boltara dan BPJS Kesehatan Teken Addendum, 7.000 Peserta JKN
Kapolres Boltara Pimpin Operasi Patuh Klabat 2026, Keselamatan Jadi Prioritas
HUT ke-62 Partai Golkar, Saiful Ambarak: Golkar Harus Hadir dengan Karya Nyata untuk Rakyat
Dukung Pembangunan KNMP, Pemkab Boltara Bersinergi dengan PLN ULP
Pemkab Boltara Tambah 7.000 Peserta JKN, Bidik UHC Prioritas
Pemkab Boltara Gelar Pasar Murah, Warga Nikmati Sembako Bersubsidi
Peduli Korban Kebakaran, Plt. Ketua TP-PKK Boltara Salurkan Bantuan di Talaga
Wujud Kepedulian, Plt Bupati Boltara Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran di Desa Talaga
Berita ini 484 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:56 WITA

Pemkab Boltara dan BPJS Kesehatan Teken Addendum, 7.000 Peserta JKN

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:16 WITA

Kapolres Boltara Pimpin Operasi Patuh Klabat 2026, Keselamatan Jadi Prioritas

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:24 WITA

HUT ke-62 Partai Golkar, Saiful Ambarak: Golkar Harus Hadir dengan Karya Nyata untuk Rakyat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:37 WITA

Dukung Pembangunan KNMP, Pemkab Boltara Bersinergi dengan PLN ULP

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:53 WITA

Pemkab Boltara Tambah 7.000 Peserta JKN, Bidik UHC Prioritas

Berita Terbaru

Panitia Pemilihan Kapitalaung Kampung Bahu dan Kedua Calon Kapitalaung Kampung Bahu, Penjabat Kapitalaung bersama Perangkat, Ketua MTK bersama Anggota

Sangihe

Amir Mahmud Hapantenda Menang, Kampung Bahu Tetap Damai!

Rabu, 21 Okt 2026 - 19:26 WITA