BOLTARA, Expektasi.com – Ada pemandangan berbeda dalam pelaksanaan Apel Kerja Bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Selasa (1/9/2026).
Bertempat di halaman Kantor Bupati, Bupati Boltara, Dr. Sirajudin Lasena, SE., M.Ec.Dev., bertindak selaku pembina apel. Namun, perhatian peserta justru tertuju pada satu hal yang terbilang baru dalam pelaksanaan apel pemerintahan.
Tidak terlihat lagi kursi khusus yang biasanya disediakan bagi para pejabat eselon II. Para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) justru berdiri dan berbaris bersama seluruh ASN di bawah teriknya matahari pagi.
Pemandangan tersebut bukan sekadar perubahan teknis dalam pelaksanaan apel. Kebijakan itu dinilai membawa pesan tentang kesetaraan, kedisiplinan dan rasa keadilan di lingkungan birokrasi.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, pola tersebut telah beberapa kali diterapkan dan terus dilakukan secara konsisten. Dalam setiap apel kerja maupun kegiatan peringatan hari-hari besar, seluruh ASN, termasuk para pimpinan OPD, diwajibkan mengikuti barisan tanpa pengecualian.
Dengan demikian, kebiasaan lama berupa penyediaan tempat duduk khusus bagi pejabat dan perlakuan berbeda selama apel mulai ditinggalkan.
Langkah tersebut juga menjadi simbol bahwa dalam menjalankan tugas pemerintahan, jabatan bukanlah alasan untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Seorang pejabat tetap merupakan bagian dari aparatur yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam membangun daerah.
Bagi sebagian ASN, perubahan ini memberikan nuansa tersendiri. Pimpinan tidak hanya memberikan instruksi dari atas, tetapi ikut merasakan kondisi yang sama dengan bawahannya.
Sikap tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keteladanan dalam birokrasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Berdiri bersama, mengikuti apel bersama dan merasakan panas yang sama menjadi pesan bahwa tidak ada jarak yang terlalu lebar antara pimpinan dan bawahan ketika berbicara tentang kedisiplinan dan pengabdian.
Bupati SJL, sapaan akrab Dr. Sirajudin Lasena, mengatakan, kebijakan ini diharapkan tidak berhenti sebagai perubahan dalam tata cara apel. Lebih jauh, langkah tersebut diharapkan menjadi budaya baru dalam pemerintahan Boltara, bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab dan keteladanan yang harus ditunjukkan.
Sebab pada akhirnya, keadilan dalam birokrasi bukan hanya berbicara tentang aturan yang tertulis, tetapi juga tentang bagaimana setiap orang diperlakukan secara wajar dan bagaimana seorang pemimpin memberikan contoh sebelum meminta bawahannya untuk mengikuti.
Dari halaman Kantor Bupati, pesan sederhana itu terlihat jelas: tidak ada kursi istimewa, tidak ada tempat berteduh khusus—semua berdiri dalam barisan yang sama sebagai pelayan masyarakat.












