BOLTARA, Expektasi.com – Di balik keramahan seseorang di dunia digital, belum tentu tersimpan niat yang baik. Kalimat sederhana seperti “Kamu kelas berapa?”, “Jangan bilang orang tua ya,” hingga “Boleh kirim foto kamu?” patut diwaspadai, terutama ketika percakapan tersebut menyasar anak-anak dan remaja.
Pesan kewaspadaan tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sriwahyuni Pontoh, S.Sos, Minggu (30/08/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial memang memberikan banyak manfaat, namun juga menghadirkan risiko yang perlu dipahami bersama. Salah satunya adalah munculnya orang-orang yang memanfaatkan ruang digital untuk mendekati anak dengan cara membangun kepercayaan secara perlahan.
“Tidak semua orang yang terlihat baik di dunia digital benar-benar memiliki niat yang baik. Karena itu, anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda bahaya ketika berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal,” pesan Sriwahyuni.
Ia mengingatkan, beberapa bentuk percakapan yang terlihat sepele justru dapat menjadi awal dari situasi yang membahayakan. Terlebih jika seseorang mulai menanyakan identitas pribadi, meminta foto, mengajak merahasiakan percakapan dari orang tua, atau berusaha memindahkan komunikasi ke ruang yang lebih privat.
Karena itu, ketika menemukan percakapan yang membuat tidak nyaman atau mencurigakan, anak maupun remaja diminta tidak takut untuk mengambil tindakan.
“Kenali tanda bahayanya, hentikan percakapannya, blokir dan laporkan akunnya. Kemudian ceritakan kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya,” demikian imbauannya.
Sriwahyuni juga memberikan pesan penting kepada para orang tua. Menurutnya, perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dengan mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan.
Orang tua diharapkan tidak langsung memarahi atau menyalahkan anak ketika mereka menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan di dunia digital.
“Jangan langsung menyalahkan anak. Jadilah tempat yang aman agar mereka berani bercerita,” pesannya.
Sikap terbuka dari orang tua dinilai penting agar anak tidak memilih diam ketika menghadapi percakapan atau perlakuan yang membuat mereka takut, bingung maupun tidak nyaman.
Di tengah semakin luasnya penggunaan media sosial, edukasi mengenai keamanan digital menjadi tanggung jawab bersama. Anak perlu memahami bahwa tidak semua akun yang menggunakan foto profil ramah, memberikan perhatian, atau mengaku sebaya dapat dipercaya.
Sebab di dunia digital, keramahan bukan selalu tanda keamanan. Berani berkata tidak, menghentikan percakapan, memblokir, melaporkan, dan bercerita kepada orang yang dipercaya adalah langkah sederhana untuk melindungi diri.












