BOLTARA, Expektasi.com – Rencana pengembangan usaha peternakan babi milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Mome, Kecamatan Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), menuai sorotan. Proyek yang bersumber dari Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025 dengan nilai sekitar Rp130 juta tersebut hingga kini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Ironisnya, meski pembangunan kandang ternak disebut telah mendekati tahap penyelesaian, hewan ternak yang menjadi inti dari program usaha tersebut justru belum tersedia.
Kondisi ini diungkapkan salah satu tokoh masyarakat Desa Mome kepada awak media, Minggu (30/8/2026). Ia menyebut pembangunan fisik kandang memang terlihat berjalan, namun program usaha peternakan belum dapat beroperasi karena tidak adanya ternak.
“Ada pengadaan usaha ternak milik Bumdes, bangunan kandang hampir kelar, cuma tidak ada ternaknya,” ujar warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Ketua Bumdes Mome, Arince Sasamira, membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi. Menurutnya, pembangunan kandang telah memasuki tahap akhir, sementara pengadaan bibit ternak yang diserahkan kepada pihak ketiga hingga memasuki tahun 2026 belum juga direalisasikan.
“Bangunannya hampir selesai. Untuk ternaknya sendiri, pengadaannya diserahkan ke pihak ketiga, namun sampai tahun 2026 ini tidak ada realisasi,” jelas Arince.
Arince juga menjelaskan pembagian pengelolaan anggaran dalam kegiatan tersebut. Dari total anggaran Rp130 juta, Bumdes mengelola sekitar Rp13 juta yang diperuntukkan bagi biaya Harian Orang Kerja (HOK).
Sementara itu, sekitar Rp100 juta disebut dikelola dan dikerjakan oleh pihak ketiga yang menjadi mitra dalam pelaksanaan proyek pengembangan usaha peternakan tersebut.
Mandeknya pengadaan ternak membuat tujuan awal program tersebut untuk mengembangkan usaha ekonomi desa dan memberikan manfaat kepada masyarakat belum dapat diwujudkan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan dari pihak ketiga maupun Kepala Desa (Sangadi) setempat terkait alasan belum direalisasikannya pengadaan bibit ternak sebagaimana kesepakatan kerja sama.
Masyarakat Desa Mome berharap pemerintah desa bersama Bumdes dapat segera mencari solusi atas persoalan tersebut. Terlebih, dana yang digunakan merupakan Dana Desa, sehingga keberadaan program tersebut diharapkan benar-benar memberikan manfaat dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Publik juga berharap adanya keterbukaan mengenai mekanisme kerja sama, penggunaan anggaran, serta progres pengadaan ternak agar tidak menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.
Kini, perhatian masyarakat tertuju pada satu pertanyaan sederhana: kapan usaha ternak Bumdes Mome yang telah menghabiskan anggaran tersebut benar-benar bisa berjalan dan memberikan manfaat bagi warga?
(Awal)












