Expektasi.com, Boltara – Suasana haru, bangga, dan penuh rasa syukur menyelimuti halaman SD Islam Terpadu (SDIT) Waladun Sholeh Boroko, Kecamatan Kaidipang, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), saat digelarnya Penamatan 25 Siswa Kelas VI Angkatan Pertama dan Wisuda Tahfiz Angkatan IV, Kamis (25/6/2026).
Di tengah rangkaian acara yang berlangsung khidmat, perhatian seluruh tamu undangan tertuju kepada penampilan salah satu siswi, Kaisa Afwa Mokoginta, putri dari Kepala Dinas Kesehatan Boltara, Sofian Mokoginta, SKM, bersama Ny. Cici Mokoginta Rambing. Dengan suara yang tenang namun penuh penghayatan, Kaisa membawakan puisi berjudul “Jejak Kecil di Sekolah”.
Setiap bait yang diucapkannya seolah membawa hadirin kembali mengenang perjalanan awal berdirinya SDIT Waladun Sholeh. Sekolah yang memulai langkah dengan segala keterbatasan itu kini berhasil mengantarkan angkatan pertamanya menuju gerbang pendidikan berikutnya.
Puisi tersebut tidak hanya menceritakan tentang perpisahan. Lebih dari itu, karya tersebut menjadi ungkapan rasa syukur atas perjuangan para guru, doa orang tua, persahabatan para siswa, serta keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi.
Salah satu bait yang paling menyentuh berbunyi:
“Namun ternyata, mimpi tidak pernah membutuhkan kemewahan untuk tumbuh. Ia hanya memerlukan keyakinan, dan hati-hati yang tak pernah menyerah.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan perjalanan SDIT Waladun Sholeh yang sejak awal terus berjuang membangun pendidikan Islam berkualitas. Bukan kemegahan gedung yang menjadi kekuatan utama, melainkan semangat, keikhlasan, dan komitmen seluruh keluarga besar sekolah dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
Tak sedikit tamu undangan yang tampak mengusap air mata ketika Kaisa menyampaikan bagian puisi yang ditujukan kepada para guru.
“Engkau adalah matahari yang tak pernah lelah menyinari. Di balik senyum yang selalu kau hadiahkan, ada lelah yang kau sembunyikan. Di balik nasihat yang kau ucapkan, ada doa yang diam-diam kau panjatkan.”
Bait tersebut menjadi penghormatan mendalam kepada para pendidik yang selama enam tahun mendampingi para siswa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Suasana semakin emosional ketika puisi berlanjut kepada ungkapan terima kasih untuk kedua orang tua.
“Terima kasih untuk cinta dan kasihnya. Cinta yang bangun lebih awal daripada matahari, dan pulang lebih larut daripada senja. Cinta yang menjelma doa dalam setiap sujud, menjadi kekuatan dalam setiap langkah kami.”
Kalimat-kalimat itu membuat banyak orang tua larut dalam haru. Momen penamatan bukan lagi sekadar seremoni kelulusan, tetapi menjadi pengingat akan besarnya pengorbanan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Penampilan Kaisa ditutup dengan pesan yang menggambarkan semangat seluruh lulusan SDIT Waladun Sholeh.
“Kami membawa pelajaran tentang kesabaran, kebersamaan, cinta dan doa. Kami membawa keyakinan bahwa mimpi dapat tumbuh di mana saja, bahkan ketika segala sesuatu tampak terbatas. Terima kasih, sekolah tercinta.”
Tepuk tangan panjang pun menggema memenuhi halaman sekolah. Banyak tamu mengaku tersentuh oleh isi puisi yang sarat makna dan begitu dekat dengan perjalanan SDIT Waladun Sholeh selama ini.
Penampilan tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam Penamatan Siswa Kelas VI Angkatan Pertama dan Wisuda Tahfiz Angkatan IV. Lebih dari sekadar persembahan seni, puisi “Jejak Kecil di Sekolah” menjadi simbol perjalanan sebuah sekolah yang lahir dari kesederhanaan, dibesarkan oleh ketulusan, dan kini mulai menuai hasil melalui lahirnya generasi pertama yang siap melanjutkan langkah menuju masa depan.
Air mata yang mengalir siang itu bukanlah air mata perpisahan semata, melainkan air mata kebanggaan atas sebuah perjalanan panjang yang akhirnya membuahkan harapan baru bagi pendidikan Islam di Kabupaten Boltara.











