Expektasi.com, Bolmut – Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu. Hal ini disampaikan oleh Ketua Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Imaaduddiyn Guhung, S.Fil.I., Senin (10/03/2025).
Menurut Imaaduddiyn, hawa nafsu memiliki banyak keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dapat membuat seseorang cenderung berlebihan. Padahal, segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. “Hidup harus memiliki batas, dan batasan tersebut lebih pada mensyukuri nikmat. Syukur adalah kunci agar kita tidak jatuh dalam kekufuran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keinginan duniawi sering kali membuat manusia terlena dan terjebak dalam tipu muslihat dunia. “Kekuasaan dan harta melimpah tidak menjamin ketenangan hidup seseorang. Justru merasa puas dan cukup adalah kenikmatan hakiki dalam menjalani kehidupan,” tambahnya.
Bulan suci Ramadhan 1446 H menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengurangi sedikit demi sedikit nafsu duniawi. Puasa memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berbenah dan menyadari keterbatasan yang dimiliki. Imaaduddiyn mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar menjadi hak milik manusia, karena segala sesuatu hanyalah titipan Allah SWT. “Jika Allah menghendaki untuk mengambil kembali apa yang telah dititipkan-Nya, maka tidak ada daya dan upaya bagi manusia untuk mempertahankannya,” tegasnya.
Saat ini, puasa telah melewati fase 10 hari pertama dan akan memasuki 10 hari kedua. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan penuh rahmat dan ampunan ini. “Namun, jika kita lalai dalam memanfaatkan bulan suci ini, maka tangisilah diri kita sendiri. Mungkin nafsu dunia telah menghalangi hati kita dari hidayah-Nya,” jelasnya.
“Bulan Ramadhan adalah momen refleksi diri dan peningkatan keimanan. Dengan memahami hakekat puasa yang sesungguhnya, seluruh umat Islam menaruh harap agar dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan ketulusan,” pungkas Imaaduddiyn.











