Expektasi.com, Boltara – Di balik jabatan prestisius sebagai Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), tersimpan kisah perjuangan panjang seorang anak nelayan yang nyaris putus sekolah karena kemiskinan.
Dialah Mirwan Datukaramat, S.Kom. Sosok sederhana yang hari ini dipercaya memimpin BKPSDM Boltara oleh Bupati Bolaang Mongondow Utara, Dr. Sirajudin Lasena, SE.,M.Ec.Dev. Namun siapa sangka, perjalanan hidupnya dibangun dari air mata, keterbatasan, dan pengorbanan orang tua yang begitu menggetarkan hati.
Mirwan lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang nelayan kecil, sementara ibunya hanya penjual kue demi membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Dalam kondisi ekonomi yang serba sulit, pendidikan menjadi barang mewah bagi keluarga mereka.
Ia menyelesaikan pendidikan di SDN 1 Boroko tahun 1994, lalu lulus dari SMP Negeri 1 Kaidipang pada tahun 1997. Namun selepas SMP, mimpi Mirwan hampir terhenti. Krisis moneter yang melanda Indonesia saat itu membuat keluarganya benar-benar terpuruk.
Bahkan untuk membeli perlengkapan sekolah saja, keluarganya tidak mampu.
Di titik itulah pengorbanan besar seorang ayah terjadi.
Demi melihat anaknya tetap bisa sekolah, sang ayah rela menjual perahu—satu-satunya alat mencari nafkah di laut. Perahu yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga, diikhlaskan demi membeli perlengkapan masuk SMA.
Dengan modal satu pasang seragam putih abu-abu, Mirwan mendaftar di SMA Negeri 1 Bolang Itang. Sementara seragam pramuka dan PMR ia beli bekas dari kakak kelas yang baru lulus. Seragam itu dipakainya hingga tamat SMA pada tahun 2000.
Bahkan perjuangan menuju sekolah pun menjadi kisah yang tak mudah dilupakan. Saat sebagian teman-temannya berangkat ke SMA Bolangitang dengan sepeda, ia hanya mampu berjalan kaki dari ujung Labuang menuju Bolangitang. Langkah demi langkah ia tapaki jalan panjang itu dengan penuh keikhlasan. Panas matahari, debu jalanan, dan rasa lelah menjadi teman perjalanan setiap hari. Namun tidak pernah ada amarah apalagi rasa malu.
“Saya tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Bahkan dari lima bersaudara, hanya saya yang punya kesempatan sekolah sampai SMA. Saudara saya yang lain harus putus sekolah karena keadaan ekonomi,” kenangnya.
Namun keterbatasan tidak pernah mematikan semangatnya.
Tahun 2000, dengan tekad dan keberanian besar, Mirwan nekat merantau ke Gorontalo untuk melanjutkan kuliah di STMIK Ichsan Gorontalo. Saat itu, ia bahkan belum pernah menginjakkan kaki di kota tersebut. Ia hanya berbekal harapan dan keberanian mengikuti saudara yang lebih dulu berangkat ke Gorontalo.
Perjalanan hidupnya perlahan berubah.
Ketekunan dan kecerdasannya membuat Mirwan dilirik salah satu dosen untuk menjadi asisten dosen sejak semester empat. Kesempatan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah menyelesaikan Diploma Tiga pada tahun 2004, pihak kampus memintanya tetap mengajar sambil melanjutkan pendidikan Strata Satu.
Namun ujian berat kembali datang.
Saat hendak menyelesaikan kuliah, ayahnya mengalami kecelakaan laut dan hilang selama tiga hari tiga malam akibat dihantam badai saat mencari nafkah. Keluarga diliputi kecemasan dan kesedihan mendalam.
Mirwan bahkan sempat berniat menghentikan kuliahnya demi membantu keluarga.
Tetapi takdir berkata lain.
Pihak kampus memberikan dukungan luar biasa dengan membebaskan seluruh biaya kuliah hingga wisuda. Selain itu, karena sudah menjadi asisten dosen, Mirwan juga menerima honor mengajar untuk menopang kehidupannya.
Dengan perjuangan penuh air mata, ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan Strata Satu dan diwisuda pada tahun 2006.
Meski memiliki peluang karier akademik yang baik di Gorontalo, Mirwan memilih pulang kampung ketika Kabupaten Boltara resmi dimekarkan menjadi daerah otonom baru pada tahun 2007.
Ia meninggalkan dunia kampus dan kembali ke tanah kelahirannya dengan satu mimpi: mengabdi untuk daerah.
Di Boltara, Mirwan membuka lembaga kursus komputer. Di masa itu, teknologi informasi masih sangat asing bagi sebagian besar masyarakat. Kursus yang dibukanya pun mendapat sambutan luar biasa.
Tak hanya itu, ia juga diminta menjadi Ketua Jurusan Multimedia di SMK Negeri 1 Kaidipang saat sekolah tersebut pertama kali membuka jurusan multimedia.
Tahun 2007 ia mencoba mengikuti seleksi CPNS, namun belum berhasil. Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah.
Setahun kemudian, saat Boltara kembali membuka penerimaan CPNS dengan formasi komputer sebanyak tiga orang, Mirwan kembali mencoba.
Dan kali ini, perjuangan panjangnya berbuah manis.
Ia dinyatakan lulus dan resmi menjadi CPNS pada tahun 2008 dengan penempatan pertama di Badan Kepegawaian Daerah (BKD).
Dari situlah pengabdian panjang Mirwan Datukaramat sebagai Aparatur Sipil Negara dimulai.
Kariernya perlahan menanjak. Ia pernah dipercaya menjabat berbagai posisi strategis, mulai dari Plt Kepala Sub Bidang di BKD, Kepala Sub Bidang Perencanaan dan Formasi BKDD, Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, hingga Kepala Bidang di sejumlah OPD.
Ia juga pernah menjabat Kepala Bidang Aplikasi Informatika Persandian dan Statistik Dinas Kominfo, Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, Kepala Bidang Perkebunan, Sekretaris Dinas Kominfo, hingga dipercaya sebagai Plt Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Boltara.
Puncaknya, pada 5 Mei 2026, Mirwan Datukaramat resmi dilantik sebagai Kepala BKPSDM Kabupaten Boltara.
Sebuah jabatan yang terasa begitu emosional bagi dirinya.
Sebab, ia kembali ke tempat pertama kali mengabdi sebagai ASN. Bedanya, kini ia datang bukan sebagai staf muda penuh mimpi, melainkan sebagai pemimpin dengan tanggung jawab besar di pundaknya.
Kepercayaan yang diberikan Bupati Sirajudin Lasena kepada Mirwan bukanlah tanpa alasan. Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa jabatan tidak selalu lahir dari kemewahan dan privilese, tetapi bisa lahir dari perjuangan, ketekunan, loyalitas, dan pengorbanan.
Kisah Mirwan Datukaramat adalah gambaran nyata bahwa anak seorang nelayan pun bisa berdiri di posisi terhormat jika tidak menyerah pada keadaan.
Dari perahu tua yang dijual demi pendidikan, kini ia memimpin lembaga yang mengurus masa depan ASN di Kabupaten Boltara.
Sebuah perjalanan hidup yang bukan hanya menginspirasi, tetapi juga mengajarkan bahwa doa orang tua dan kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. (Awal)










