SANGIHE, Expektasi.com – Menghadapi kemarau panjang yang berdampak pada ketersediaan air dan kehidupan masyarakat, jamaah Masjid Imaduddin Kampung Bahu, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan, Jumat pagi (25/9/2026).
Pelaksanaan Shalat Istisqa berlangsung di halaman Masjid Imaduddin Bahu dan diikuti oleh jamaah dengan penuh khidmat. Shalat dipimpin oleh pimpinan jamaah Masjid Imaduddin Bahu, Abdul Rahman Padarat, sementara khutbah disampaikan oleh Ustadz Arham Padarat, S.Pd.I.
Dalam khutbahnya, Ustadz Arham menekankan bahwa Shalat Istisqa bukan sekadar ikhtiar untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga momentum bagi umat untuk melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar, bertaubat dan kembali mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa manusia terkadang baru menyadari betapa berharganya air ketika sumur mulai mengering, tanaman membutuhkan air, hewan kesulitan mendapatkan air, dan aktivitas kehidupan mulai terganggu.
“Hari ini kita bukan hanya meminta hujan, hari ini kita juga meminta ampun kepada Allah. Kita datang dengan istighfar, kita datang dengan taubat, kita datang dengan mengakui kesalahan, karena mungkin selama ini kita terlalu banyak meminta kepada Allah tetapi terlalu sedikit bersyukur kepada Allah,” ujar Ustadz Arham dalam khutbahnya.
Mengutip Surah Nuh ayat 10-12, Ustadz Arham menjelaskan tentang pentingnya memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT sebagai bagian dari ikhtiar seorang hamba dalam menghadapi kesulitan.
Ia juga mengajak jamaah untuk tidak saling menyalahkan, baik terhadap tetangga, pemerintah maupun pihak lainnya atas kondisi kemarau yang terjadi. Sebaliknya, masyarakat diminta untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Selain memperbanyak istighfar dan meninggalkan kemaksiatan, jamaah juga diajak menyelesaikan berbagai perselisihan serta memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, doa harus disertai dengan ikhtiar nyata, di antaranya menjaga mata air, melestarikan hutan, tidak membuang sampah sembarangan serta tidak melakukan tindakan yang dapat merusak lingkungan.
“Jangan sampai kita hanya meminta hujan, tetapi setelah hujan turun kita kembali merusak lingkungan. Doa harus disertai dengan ikhtiar dan kepedulian kita terhadap alam,” pesan Ustadz Arham.
Sementara itu, Ketua Badan Tak’mirul Masjid (BTM) Imaduddin Bahu, Masruru Salele, S.Pd.I., M.Pd., saat ditemui awak media usai pelaksanaan Shalat Istisqa, mengatakan bahwa sebelum pelaksanaan shalat, jamaah telah diimbau untuk melaksanakan puasa sunnah selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis.
Selain itu, jamaah juga diajak memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT.
“Sebelum Shalat Istisqa dimulai pagi ini, jamaah masjid diajak untuk melakukan puasa sunnah selama tiga hari, serta memperbanyak taubat dan istighfar,” ujar Masruru.
Ia berharap ikhtiar yang dilakukan jamaah tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mengetuk pintu rahmat-Nya agar hujan segera turun dan membawa keberkahan bagi masyarakat.
Pelaksanaan Shalat Istisqa di Masjid Imaduddin Bahu juga menjadi pengingat bahwa menghadapi kemarau bukan hanya persoalan menunggu turunnya hujan, tetapi membutuhkan doa, taubat, rasa syukur, kepedulian sosial, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam.
(Hulik Manahede)












