Expektasi.com, Boltara – Upaya menjaga warisan budaya lokal kembali mendapat ruang istimewa. Mulai Sabtu (30/8/2025), Seminar dan Lokakarya Kamus Dwibahasa Indonesia–Bintauna bertajuk Mairo Mopoalli resmi digelar di SMP Negeri 3 Bolaang Mongondow Utara (Boltara). Agenda ini akan berlangsung hingga Minggu (31/8/2025).
Dengan mengusung tema besar “Menjaga Jejak Leluhur: Semiloka Kamus demi Lestarinya Bahasa Bintauna”, kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, tokoh adat, dan komunitas budaya untuk bersama-sama merumuskan rancangan awal kamus dwibahasa Indonesia–Bintauna.
“Bahasa bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga rekam jejak peradaban. Menyusun kamus berarti merawat identitas kolektif yang diwariskan leluhur,” ungkap panitia pelaksana menjelang pembukaan kegiatan.
Selama dua hari, peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan yang terbagi dalam sesi seminar dan lokakarya. Beberapa agenda utama di antaranya:
– Identifikasi kosakata esensial bahasa Bintauna
– Pembahasan metodologi linguistik dan etnografi bahasa
– Penyusunan draft awal kamus dwibahasa Indonesia–Bintauna
– Strategi digitalisasi serta pewarisan bahasa untuk generasi muda
Bahasa Bintauna, salah satu bahasa lokal di wilayah Boltara, kini berada dalam tekanan derasnya modernisasi dan arus budaya global. Melalui forum ini, diharapkan lahir strategi nyata agar bahasa tersebut tidak sekadar bertahan, tetapi juga berkembang dan dipelajari lintas generasi.
Pelaksanaan Mairo Mopoalli menjadi penanda bahwa pelestarian bahasa daerah bukan semata romantisme budaya, melainkan bagian dari strategi kebudayaan nasional. Bahasa lokal adalah energi kultural yang memperkaya identitas bangsa serta sumber pengetahuan yang tak ternilai.
Acara ini digagas oleh komunitas Teras Inomasa bersama mitra akademik, lembaga pendidikan, serta dukungan media lokal dan nasional. Jejak yang ditinggalkan di Boltara kali ini akan menjadi bukti bahwa menjaga bahasa leluhur berarti menjaga jati diri bangsa.










