Expektasi.com, Manado – Setiap tanggal 3 Mei, dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day) sebagai bentuk penghormatan terhadap prinsip-prinsip dasar kebebasan pers. Hari penting ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1993 untuk mengapresiasi peran jurnalis, mengingatkan pemerintah atas kewajibannya dalam menjamin kebebasan berekspresi, serta mengenang para jurnalis yang gugur dalam tugas.
Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muliadi Paputungan, turut menyuarakan pentingnya momen ini. Ia juga merupakan Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara periode 2025–2029, menggantikan Yusra Alhabsyi.
“Pers bukan hanya penyampai informasi, tapi juga penjaga demokrasi, pengawas kekuasaan, dan pelindung hak publik untuk tahu. Di era digital seperti sekarang, pers menjadi pilar utama dalam menjaga agar informasi yang beredar tidak menyesatkan publik,” ujar Muliadi, Sabtu (03/05/2025).
Ia menegaskan, tantangan kebebasan pers saat ini semakin kompleks, mulai dari disinformasi, sensor, hingga kekerasan terhadap jurnalis. Menurutnya, kebebasan pers adalah ukuran sehatnya sebuah demokrasi.
“Jurnalis yang bekerja secara independen dan profesional adalah benteng terakhir dalam menangkal hoaks, menyoroti penyalahgunaan kekuasaan, serta menyuarakan kelompok rentan yang kerap terpinggirkan dalam wacana publik,” tegasnya.
Muliadi juga mengingatkan bahwa tanpa kebebasan pers, praktik korupsi dan pelanggaran HAM akan sulit terungkap. “Jika pers dibungkam, maka kebebasan berekspresi dan hak rakyat untuk mengetahui informasi juga ikut terancam,” tambahnya.
Ia pun mengajak semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah, untuk melindungi dan mendukung kerja-kerja jurnalistik yang bermutu dan bertanggung jawab.
“Pers yang kuat dan merdeka adalah prasyarat bagi negara yang adil dan demokratis. Ini bukan hanya tugas wartawan, tapi juga tanggung jawab kita semua,” tutup Muliadi.











