Expektasi.com, Boltara – Momentum sakral peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2025 di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) tampaknya diwarnai catatan kritis. Upacara yang digelar di halaman Kantor Bupati Boltara, dengan Bupati Dr. Sirajudin Lasena, SE., M.Ec.Dev. bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup), justru dihadiri oleh jumlah kepala desa (sangadi) yang sangat minim.
Berdasarkan pantauan media ini, dari 106 desa dan 1 kelurahan yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Boltara, hanya 28 kepala desa dan lurah yang tampak hadir mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan. Kondisi ini sontak menuai perhatian dan keprihatinan dari berbagai kalangan.
Padahal, tema nasional peringatan tahun ini, “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan” seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat pengabdian dan keteladanan, terutama bagi para pemimpin di tingkat akar rumput, yakni para kepala desa.
Namun, realitas di lapangan memperlihatkan hal yang kontras. Ketidakhadiran mayoritas kepala desa di momen bersejarah ini dianggap sebagai tanda melemahnya disiplin, rasa hormat terhadap nilai perjuangan, dan kurangnya kesadaran terhadap simbol keteladanan yang mestinya mereka contohkan.
Sejumlah pihak menilai, absennya sebagian besar sangadi mencerminkan sikap yang berbanding terbalik dengan semangat juang para pahlawan.
“Ini ironis. Hari Pahlawan seharusnya menjadi ruang refleksi bagi pemimpin di tingkat desa untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan. Tapi justru banyak yang tidak hadir,” ujar Ketua LP-KPK Boltara, Fadli Alamri, Senin (10/11/2025).
Dalam amanat yang dibacakan Bupati Boltara Dr. Sirajudin Lasena, disebutkan bahwa para pahlawan mengajarkan tentang kesabaran, keikhlasan, dan semangat mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya.
Namun, semangat tersebut tampaknya belum sepenuhnya terwujud di tingkat pelaksana pemerintahan desa, yang seharusnya menjadi ujung tombak pelayanan publik.
Ketiadaan para sangadi dalam momentum kenegaraan ini juga menimbulkan pertanyaan publik: ke mana semangat “bergerak dan melanjutkan perjuangan” itu hendak diarahkan, jika simbol kecil dari penghormatan terhadap para pahlawan saja diabaikan?
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Boltara dapat melakukan evaluasi dan memberikan pembinaan kepada para kepala desa agar lebih menunjukkan tanggung jawab moral dan keteladanan dalam setiap kegiatan nasional yang mengandung nilai-nilai kebangsaan.
“Peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar seremonial. Ini adalah refleksi tentang sejauh mana kita meneladani pengorbanan para pendahulu. Dan ketidakhadiran pemimpin di momentum seperti ini, adalah kehilangan makna dari perjuangan itu sendiri,” pungkas Ketua LP-KPK.










