SANGIHE, Expektasi.com – Di sebuah kampung kecil di wilayah perbatasan utara Indonesia, tersimpan kisah yang mengajarkan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas geografis. Dari Kampung Bahu, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, lahirlah sebuah cerita tentang perjuangan, doa, dan kasih sayang seorang ibu yang akhirnya berbuah manis.
Pepatah “perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil” seakan menemukan maknanya dalam perjalanan hidup Ghefira Tempongbuka, S.Pd. Putri sederhana asal Kepulauan Sangihe itu resmi menyandang gelar Sarjana usai menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dengan predikat Cumlaude (dengan pujian).
Prosesi wisuda yang berlangsung khidmat pada Kamis (30/7/2026) di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo bukan sekadar seremoni akademik. Hari itu menjadi saksi atas bertahun-tahun perjuangan seorang anak yang meninggalkan kampung halaman demi mengejar cita-cita, sekaligus menjadi jawaban atas doa yang tak pernah putus dipanjatkan seorang ibu.
Di balik toga dan senyum bahagia Ghefira, ada sosok perempuan tangguh bernama Rabiah Tempongbuka. Sehari-hari, ia mengabdikan hidupnya sebagai Tenaga Pendidik di PAUD Kober Buah Hati Satu. Dengan penghasilan yang sederhana, ia terus menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.
Sebagai seorang guru PAUD, Rabiah tidak hanya mendidik anak-anak di ruang kelas, tetapi juga menjadi guru kehidupan bagi putrinya sendiri. Ia mengajarkan arti ketekunan, kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa setiap tetes keringat yang disertai doa akan menemukan jalannya menuju keberhasilan.
Perjuangan itu tentu tidak mudah. Menempuh pendidikan di tanah rantau berarti harus berjauhan dari keluarga, menghadapi berbagai tantangan, serta belajar bertahan dalam berbagai keterbatasan. Namun semua itu tidak mampu mematahkan semangat Ghefira.
Sebaliknya, setiap kali rasa lelah datang, ia selalu mengingat wajah sang ibu yang tanpa lelah berjuang demi masa depannya.
Melalui akun media sosial pribadinya, Ghefira menumpahkan rasa syukur sekaligus cinta yang begitu dalam kepada perempuan yang telah menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan.
“Terima kasih telah menjadi alasan bagiku untuk tidak pernah menyerah. Di balik gelar ini, tersimpan air mata yang tak terlihat, doa, serta pengorbananmu. Atas izin Allah dan berkat doa-doamu aku berhasil lulus tepat waktu. Aku berharap suatu hari nanti bisa membalas segala kebaikan, perjuangan, dan pengorbanan yang telah kau lalui untukku. I love you Mama. Terima kasih untuk segalanya,” tulis Ghefira.
Ungkapan itu menjadi bukti bahwa sebuah gelar sarjana bukan hanya milik mereka yang mengenakannya, tetapi juga milik orang tua yang telah mengorbankan tenaga, waktu, air mata, bahkan impian pribadi demi melihat anaknya berhasil.
Kebahagiaan itu pun dirasakan langsung oleh Rabiah. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku seluruh perjuangan yang selama ini dijalani terasa terbayar lunas ketika melihat putrinya berdiri di atas panggung wisuda.
“Sebagai orang tua, tentu saya dan keluarga merasa sangat bersyukur dan terharu atas pencapaian Ghefira. Segala lelah dan keterbatasan selama ia merantau terbayar lunas hari ini. Pesan saya kepada anak saya, ilmu yang didapat ini semoga bisa dijaga, bermanfaat bagi banyak orang, dan tetaplah menjadi anak yang rendah hati,” ungkap Rabiah penuh haru.
Kisah Ghefira menjadi bukti bahwa anak-anak dari daerah kepulauan dan wilayah tapal batas memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi setinggi mungkin. Keterbatasan ekonomi maupun jauhnya jarak dari pusat pendidikan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
Lebih dari sekadar meraih gelar cumlaude, keberhasilan ini adalah kemenangan sebuah keluarga yang percaya pada kekuatan pendidikan. Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, dan seorang anak yang tak pernah berhenti berjuang.
Semoga cerita dari Kampung Bahu ini menjadi cahaya bagi banyak keluarga di Kepulauan Sangihe dan daerah-daerah terpencil lainnya. Sebab, dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota sekalipun, mimpi besar tetap bisa tumbuh. Dan ketika doa seorang ibu berpadu dengan kerja keras seorang anak, tak ada batas yang terlalu tinggi untuk ditaklukkan.
(Hulik Manahede)











