Expektasi.com, Boltara – Harga beras di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), terus mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga yang mengandalkan beras sebagai makanan pokok sehari-hari.
Alin Pangalima, seorang tokoh perempuan Goyo dari Desa Ollot II, Kecamatan Bolangitang Barat, mengungkapkan keprihatinannya terhadap lonjakan harga beras yang kini dijual di kisaran Rp17.000/kg, Rp16.500/kg, hingga Rp16.000/kg tergantung jenis dan kualitas beras. Baik di warung-warung eceran maupun di pasar tradisional, harga tersebut dinilai sudah sangat memberatkan masyarakat.
“Harga beras saat ini benar-benar mencekik. Kenaikannya sangat terasa di dapur-dapur rumah tangga, terutama bagi kami para ibu yang setiap hari mengelola kebutuhan makanan keluarga,” ujar Alin, Kamis (03/07/2025).
Ia menambahkan, mahalnya harga beras tidak hanya berdampak pada pengeluaran rumah tangga, tapi juga memicu kekhawatiran akan kondisi ekonomi masyarakat yang semakin terhimpit. Belum adanya tanda-tanda penurunan harga membuat warga semakin was-was, apalagi saat ini musim paceklik.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Kami khawatir harga terus naik tanpa kendali. Harapan kami, pemerintah daerah bisa segera turun tangan, melakukan langkah-langkah konkret untuk mengintervensi harga beras agar tetap terjangkau oleh rakyat,” katanya.
Alin juga mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan dari pemerintah bisa berdampak buruk. “Kalau perut masyarakat kosong, banyak hal buruk bisa terjadi. Kami butuh solusi cepat dan nyata,” tegasnya.
Kenaikan harga beras ini menjadi sinyal penting bagi Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara untuk segera merumuskan kebijakan pengendalian harga pangan, baik melalui operasi pasar, subsidi beras, atau kerja sama distribusi dengan pihak Bulog.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perdagangan atau instansi terkait mengenai langkah konkret yang akan diambil untuk mengatasi lonjakan harga beras di Boltara. Masyarakat pun terus menanti respons cepat dan nyata dari pemerintah daerah.










