Expektasi.com, Boltara – UPTD Puskesmas Boroko, Kecamatan Kaidipang, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) menggelar kegiatan Mini Lokakarya Lintas Sektor Tahun 2025 yang dipusatkan di PKM Boroko, Kamis (26/06/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Boltara Febianto Lumoto, SKM, Unsur TNI, para Sangadi (Kepala Desa) se-Kecamatan Kaidipang bersama Ketua TP-PKK Desa masing-masing.
Acara ini menjadi momen penting untuk mengevaluasi dan menyelaraskan program kerja lintas sektor di bidang kesehatan. Salah satu sorotan utama adalah pemaparan dari Trisdawati Tolah, SKM, selaku narasumber dari pihak Puskesmas Boroko, yang menyampaikan data capaian dan tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat setempat.
Berdasarkan data periode Januari hingga Juni 2025, hipertensi (tekanan darah tinggi) tercatat sebagai penyakit yang paling banyak diderita oleh warga yang datang berobat ke Puskesmas Boroko. Trisdawati mengimbau agar masyarakat mulai menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan.
“Kami mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan asupan gizi, rutin berolahraga, dan menghindari stres. Hipertensi dapat dicegah dengan gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin,” ujarnya.
Dalam program imunisasi, capaian Puskesmas Boroko dinilai cukup menggembirakan karena telah memenuhi bahkan melampaui target. Namun, sejumlah kendala masih dihadapi di lapangan, seperti:
- Keterbatasan ketersediaan vaksin
- Kurangnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya imunisasi dan jadwalnya
- Minimnya dukungan keluarga, terutama dari pasangan atau anggota keluarga lainnya
- Persepsi negatif terkait imunisasi, seperti kekhawatiran terhadap efek samping seperti demam atau nyeri
- Rendahnya kunjungan bayi dan balita ke posyandu, terutama setelah imunisasi dasar lengkap
“Kebanyakan orang tua sudah tidak membawa anak ke posyandu setelah imunisasi lengkap, padahal layanan posyandu penting hingga anak berusia lima tahun,” tambahnya.
Lebih lanjut, Trisdawati juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 33 balita di wilayah kerja Puskesmas Boroko yang teridentifikasi mengalami masalah gizi stunting.
“Penanganan stunting membutuhkan kolaborasi semua pihak. Tidak cukup hanya peran tenaga kesehatan, tapi juga dukungan penuh dari keluarga dan aparat desa,” katanya.
Selain itu, Puskesmas Boroko juga mencatat adanya 42 pasien gangguan jiwa pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 12 orang masih dalam pemantauan, dan hanya 4 pasien yang rutin minum obat. Beberapa kendala dalam penanganan ODGJ yang ditemukan di antaranya:
- Pasien menolak dikunjungi karena merasa sudah sembuh
- Ketidakpatuhan minum obat akibat minimnya dukungan keluarga
- Kurangnya pemahaman masyarakat tentang tanda-tanda awal gangguan jiwa dan penanganannya
Kegiatan mini lokakarya ini diakhiri dengan diskusi dan komitmen bersama antar sektor, baik dari unsur pemerintahan desa, PKK, maupun pihak Puskesmas untuk saling bersinergi dalam meningkatkan pelayanan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Diharapkan program-program kesehatan dapat berjalan lebih efektif dan berdampak langsung bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Kecamatan Kaidipang.











