Expektasi.com, Bolmut – Setiap tanggal 1 Mei, masyarakat dunia memperingati Hari Buruh Internasional, atau yang juga dikenal sebagai May Day. Hari ini merupakan penghormatan terhadap perjuangan dan kontribusi kaum buruh dalam membangun ekonomi dan struktur sosial masyarakat. Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), peringatan ini menjadi ajang refleksi sekaligus penyampaian aspirasi oleh para pekerja.
Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Bolmut, Syamsudin Olii, menyampaikan bahwa Hari Buruh bukan hanya simbol sejarah perjuangan untuk hak-hak dasar seperti jam kerja 8 jam, upah layak, dan kondisi kerja manusiawi, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi kondisi buruh di era globalisasi saat ini.
“Kami tidak hanya memperingati, tetapi juga menyerukan agar pemerintah dan pengusaha lebih serius mendengar suara buruh yang kini berada di bawah tekanan globalisasi, otomatisasi, dan ketidakpastian kerja,” tegas Syamsudin, Kamis (01/05/2025).
Dalam keterangan resminya, ia mengungkap bahwa saat ini buruh tidak hanya bersaing secara lokal, tetapi juga harus menghadapi tekanan dari pasar tenaga kerja internasional. Perusahaan dengan mudah memindahkan lokasi produksi ke negara dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah, sehingga posisi buruh lokal semakin tertekan.
Lebih jauh, munculnya pola kerja baru seperti kontrak jangka pendek, outsourcing, dan freelance menyebabkan banyak pekerja kehilangan kepastian kerja jangka panjang. Di sisi lain, kemajuan teknologi turut menggantikan banyak pekerjaan fisik dengan otomatisasi, memaksa buruh untuk melakukan upskilling agar tetap relevan.
“Kenyataannya, meskipun ekonomi tumbuh, kesejahteraan buruh masih tertinggal. Banyak dari kami bekerja dengan upah rendah dan tanpa jaminan,” tambah Syamsudin.
Kondisi semakin rumit dengan keterbatasan lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja. Akibatnya, Pengangguran meningkat, Persaingan kerja semakin ketat, Buruh terpaksa bekerja di sektor informal dan Upah ditekan karena surplus tenaga kerja.
Kesenjangan ini mendorong buruh untuk menerima pekerjaan di luar kompetensi dengan kondisi yang tidak layak. Banyak pula yang tidak memiliki akses terhadap jaminan sosial, layanan kesehatan, hingga fasilitas perbankan formal.
Syamsudin juga menyoroti tingginya angka urbanisasi dan brain drain, di mana buruh terampil lebih memilih bekerja di kota besar atau luar negeri karena minimnya kesempatan di daerah.
“Tanpa penciptaan lapangan kerja yang memadai dan layak, buruh akan terus berada dalam posisi yang rentan. Pemerintah, pengusaha, dan lembaga pendidikan harus bersinergi untuk menutup kesenjangan ini,” ujarnya.
“Hari Buruh 2025 menjadi pengingat kuat bahwa perjuangan kaum buruh belum selesai. Dengan tekanan ekonomi global, perubahan teknologi, dan keterbatasan struktural, suara buruh harus semakin didengar dan dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan ketenagakerjaan ke depan.,” pungkasnya.











