Expektasi.com, Bolmut – Sebuah momen bersejarah kembali tercatat dalam perjalanan Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Bupati Bolmut, Dr. Sirajudin Lasena, SE., M.Ec.Dev, bersama Wakil Bupati Mohammad Aditya Pontoh, S.IP, secara resmi menerima gelar adat dari Aliansi Adat Kabupaten Bolmut dalam prosesi adat yang sakral, khidmat, dan penuh makna di Lapangan Kembar Boroko (LKB), Kamis (22/05/2025).
Dalam prosesi tersebut, Bupati Sirajudin Lasena dianugerahi gelar adat “Ki Doni Pangulu Agu”, sementara Wakil Bupati Aditya Pontoh menerima gelar “Apango Doni Pangulu”. Gelar tersebut merupakan simbol kepercayaan masyarakat adat atas kepemimpinan keduanya dalam membangun daerah secara arif dan bijaksana.
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, tokoh agama, serta ribuan masyarakat Bolmut yang memadati lokasi kegiatan. Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti prosesi yang sarat makna budaya ini.
Sebelum peneguhan gelar, rombongan Bupati dan Wakil Bupati disambut dengan payung adat kebesaran, iringan kulintang perunggu, serta tarian perang khas daerah yakni Tinggulu dan Tobugu. Mereka juga menerima sambutan adat ‘Sasamoto’, yakni rangkaian kata-kata jemputan yang berisi puji-pujian serta harapan kepada pemimpin.
Prosesi berlanjut ke tahapan sakral ‘Kiombu Ai Tabonga’, yakni pembersihan Bupati dan Wakil Bupati dengan air bersih dan ramuan tradisional. Ritual ini melambangkan pembersihan jiwa dan raga agar menjadi pemimpin yang bijaksana, berwibawa, serta dijauhkan dari segala marabahaya.
Upacara kemudian dilanjutkan dengan ‘Sinuloka’, simbol penolakan terhadap segala niat buruk dan angkara murka, serta ‘Niukata’, ungkapan kesiapan dan kesediaan pemimpin untuk menerima tahta dan tanggung jawab.
Puncaknya adalah prosesi ‘Mopoguli Makuta’, ketika keduanya dipasangkan mahkota kebesaran dan selendang, simbolisasi bahwa mereka kini sah sebagai pemimpin adat yang patut dihormati dan mengayomi seluruh masyarakat Bolmut.
Sebagai penutup, dilakukan penyerahan keris kebesaran (Molulugu Keleso) dan tongkat kekuasaan (Molulugu Sungguru), menandakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab secara adat.
Lalu prosesi adat ‘Molulugu Boneha’, yakni penyerahan bendera kedaulatan. Berikutnya adat ‘Ni Udi-Udia’ yaitu kata penobatan oleh punggawa yang mengandung nasihat dan sumpah adat. Bupati dan wakilnya harus menjalankan amanah rakyat jikalau melanggarnya akan mendapat sangsinya.Sumpah tersebut bunyinya “Menjadi Hitam Seperti Arang, Menjadi Kuning Seperti Kunyit, Akan Larut Seperti Garam, Diserap Tanah Seperti Air dan Akan Kering Seperti Kayu”.
Rangkaian acara ini semakin semarak dengan pergelaran seni budaya tradisional dari Kerajaan Kaidipang dan Bintauna. Ditampilkan tarian Giomu, simbol kesatuan pria dan wanita, tarian Joke khas Bintauna, serta adat Turunani yang bernuansa islami.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa adat dan tradisi di Bolaang Mongondow Utara tetap hidup dan lestari, bahkan di tengah modernisasi. Peneguhan ini juga menandai kesinambungan nilai-nilai budaya dari masa kejayaan Kerajaan Kaidipang dan Bintauna, yang kini diteruskan oleh para pemimpin daerah sebagai teladan dan pelindung masyarakat.
Ini bukan sekadar gelar, tetapi sebuah amanah dan pengingat bahwa kepemimpinan harus dilandasi nilai-nilai luhur adat dan budaya.










