SANGIHE, Expektasi.com – Aset ketahanan pangan masyarakat Kampung Bahu, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, berupa rompon (rumah ikan) nyaris hanyut dari titik koordinat awal setelah tali pengikatnya diduga sengaja diputus oleh orang tak dikenal.
Insiden tersebut disampaikan Pemerintah Kampung Bahu. Bendahara Kampung Bahu, Jibriel Makasaehe, saat ditemui di Kantor Kapitalaung, Selasa (6/10/2026), mengungkapkan kronologi kejadian tersebut.
Menurut Jibriel, pada Rabu (30/9/2026), pemerintah kampung menerima informasi dari nelayan setempat bahwa alat pemikat ikan atau gara-gara yang terpasang pada rompon telah hilang dan diduga diambil oleh orang lain.
Saat itu, pihak pemerintah kampung awalnya mengira hanya alat pemikat ikan yang hilang. Namun, setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, ditemukan kondisi yang lebih mengkhawatirkan.
Pada Senin (5/10/2026) sekitar pukul 02.30 WITA, Jibriel bersama sejumlah nelayan Kampung Bahu mendatangi lokasi rompon untuk mengganti alat pemikat ikan yang hilang.
Sesampainya di lokasi, mereka mendapati tali jangkar yang berfungsi menahan posisi rompon ternyata telah terputus.
“Untung saja tali jangkar dilapisi beberapa kali, sehingga rompon tidak sampai lepas dari jangkar,” ungkap Jibriel.
Kondisi tersebut membuat rompon nyaris bergeser atau hanyut dari titik koordinat awal. Pemerintah kampung pun menilai kejadian tersebut perlu mendapat perhatian serius karena rompon merupakan salah satu aset kampung yang dimanfaatkan untuk menunjang ketahanan pangan dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Menanggapi kejadian tersebut, Penjabat (Pj) Kapitalaung Kampung Bahu, Farmyati Maniku, A.Md.Kom., menyayangkan adanya tindakan yang diduga dilakukan oleh oknum tidak dikenal terhadap fasilitas milik kampung tersebut.
Farmyati menegaskan, kejadian itu perlu diselidiki agar dapat diketahui secara jelas penyebab terputusnya tali jangkar serta pihak yang bertanggung jawab apabila terbukti terdapat unsur kesengajaan.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Kalau memang dilakukan dengan sengaja, tentu harus diketahui siapa yang melakukannya. Karena ini merupakan aset kampung yang digunakan untuk kepentingan masyarakat,” ujar Farmyati.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kampung Bahu berencana memperketat pengawasan dan pengamanan terhadap aset kampung yang berada di wilayah perairan.
Pemerintah kampung juga akan berkoordinasi dengan perangkat kampung serta masyarakat untuk menentukan langkah pengamanan berikutnya, termasuk kemungkinan memperkuat tali jangkar rompon.
“Kedepannya, kami akan melakukan koordinasi dengan perangkat lainnya, apakah tali jangkarnya akan ditambah dengan yang lebih besar lagi atau seperti apa, nanti bergantung pada keputusan bersama,” pungkas Farmyati.
Pemerintah Kampung Bahu berharap masyarakat, khususnya para nelayan, dapat meningkatkan kewaspadaan bersama dan ikut menjaga fasilitas kampung yang menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan serta perekonomian masyarakat pesisir.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diketahui secara pasti siapa pihak yang diduga memutus tali jangkar rompon tersebut.
(Hulik Manahede)











