SANGIHE, Expektasi.com – Menghadapi kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kepulauan Sangihe bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar Doa Lintas Agama, Minggu (13/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Bupati Kepulauan Sangihe tersebut menjadi bentuk ikhtiar spiritual sekaligus wujud kepedulian bersama terhadap kondisi alam yang tengah dihadapi masyarakat Sangihe.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sangihe, Drs. H. Kusnadi, hadir sekaligus menginisiasi kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa doa bersama dari berbagai agama merupakan simbol persatuan dan harapan masyarakat agar daerah ini segera mendapatkan perlindungan serta kondisi alam yang lebih baik.
“Melalui lantunan doa bersama dari berbagai latar belakang keyakinan, seluruh elemen yang hadir menyatukan harapan agar masyarakat Sangihe senantiasa diberikan perlindungan, keselamatan, serta segera dianugerahi kondisi alam yang lebih baik,” ujar Kusnadi.
Menurutnya, kondisi kemarau dan Karhutla bukan hanya menjadi persoalan pemerintah, tetapi merupakan tantangan bersama yang membutuhkan kepedulian serta solidaritas seluruh masyarakat.
Karena itu, Kemenag bersama FKUB mendorong agar semangat kebersamaan dan toleransi terus diperkuat. Perbedaan keyakinan, kata Kusnadi, tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama mendoakan keselamatan daerah dan masyarakat.
Doa lintas agama tersebut turut dihadiri Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, S.E., M.M., Wakil Bupati Tendris Bulahari, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua MUI, Ketua FKUB, para tokoh agama, tokoh adat, Staf Ahli Bupati, jajaran pegawai Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sangihe, serta masyarakat.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat dalam menghadapi situasi yang berdampak terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan.
Selain menjadi ikhtiar spiritual, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarelemen masyarakat. Semangat toleransi dan gotong royong dinilai penting untuk terus dijaga, terlebih ketika masyarakat sedang menghadapi kondisi alam yang membutuhkan perhatian bersama.
Kemenag dan FKUB Sangihe berharap doa yang dipanjatkan secara bersama-sama tersebut menjadi penguat moral bagi masyarakat, aparat, relawan dan seluruh pihak yang saat ini terlibat dalam penanganan Karhutla.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pesan bahwa dalam menghadapi kemarau panjang dan bencana lingkungan, masyarakat Sangihe dapat berdiri bersama tanpa melihat perbedaan agama, suku maupun latar belakang.
(Hulik Manahede)












